Yogyakarta – Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI) terus memperkuat upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) dengan mengusung strategi kesehatan reproduksi yang berakar pada kearifan lokal. Organisasi ini menekankan pentingnya pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi budaya, sosial, dan geografis di berbagai wilayah Indonesia.
Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) HOGSI XVII 2026 yang diselenggarakan di Royal Ambarrukmo Hotel Yogyakarta pada 11–13 Mei 2026 menjadi ajang berkumpulnya ratusan dokter spesialis, akademisi, dan praktisi kesehatan. Acara ini difokuskan pada penguatan pelayanan obstetri dan ginekologi serta hilirisasi hasil penelitian agar lebih bermanfaat bagi masyarakat.
Fokus pada Kearifan Lokal dan Budaya Setempat
PIT HOGSI XVII 2026 mengusung tema “Implementasi Obstetri Ginekologi Sosial dalam Peningkatan Kuantitas & Kualitas Pelayanan Obstetri dan Ginekologi: Strategi Penurunan AKI, AKB serta Double Burden dengan Integrasi Kesehatan Reproduksi dan Hilirisasi Berbasis Kearifan Lokal”.
Ketua HOGSI periode 2025–2028, Prof. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, menyatakan bahwa penanganan masalah kesehatan ibu dan anak tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama di seluruh Indonesia.
“Kami menilai hilirisasi program kesehatan sangat penting agar hasil riset dan inovasi benar-benar memberikan manfaat langsung kepada masyarakat,” kata Prof. Ovi saat konferensi pers, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, strategi berbasis kearifan lokal akan lebih efektif karena selaras dengan nilai-nilai budaya dan kebutuhan komunitas setempat. HOGSI mendorong layanan kesehatan reproduksi yang bersifat promotif, preventif, serta melibatkan partisipasi masyarakat.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Double Burden
Ketua Panitia PIT HOGSI XVII 2026, dr. Eugenius Phyowai Ganap, menjelaskan bahwa forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kerjasama antarpihak dalam meningkatkan kualitas pelayanan obstetri dan ginekologi. Selain AKI dan AKB, pembahasan juga menyoroti double burden kesehatan, seperti stunting, gizi buruk, serta meningkatnya penyakit tidak menular pada perempuan dan anak.
“Melalui kolaborasi lintas sektor, kami berharap dapat mempercepat penurunan AKI dan AKB sekaligus meningkatkan kualitas generasi mendatang,” ujar dr. Phyowai.
Harapan ke Depan
Melalui kegiatan ini, HOGSI ingin mendorong perubahan layanan kesehatan reproduksi yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan sesuai dengan konteks lokal. Dengan mengintegrasikan kearifan lokal, target penurunan kematian ibu dan bayi di Indonesia diharapkan dapat dicapai lebih cepat, sekaligus mengatasi berbagai tantangan kesehatan ibu dan anak di seluruh negeri.