|
Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi Sekretariat Koordinator: Jl. Raden Saleh No. 49 Jakarta 10330 - Indonesia Telp. 62 - 21 - 3143684 Fax. 62 - 21 - 3910135 E-mail: pogi@indo.net.id Edisi II Juni 2002
|
|
Salah satu unsur dalam kualitas adalah tersedianya standar dari berbagai
proses yang bermuara pada keluaran yang dapat memberikan kepuasan terhadap klien
yang dilayani, sebagai dampak kepatuhan tenaga medik terhadap standar yang telah
ditetapkan. Unsur inilah yang akan
dikelola secara profesional oleh JNPK-KR dalam berbagai kegiatan atau proses
untuk menghasilkan tenaga pelayanan klinik yang teruji dan handal.
JNPK-KR melakukan adaptasi dan penyesuaian berbagai tehnik dan proses
yang diketahui sangat efektif dan efisien dalam menghasilkan tenaga pelayanan
yang berkualitas, diantaranya Pelatihan Berdasarkan Kompetensi (Competency
Based Training atau CBT) dengan berbagai komponen yang ada didalam metode
pelatihan ini. Keterlibatan kelompok profesi POGI secara lebih terfokus dan terorganisasi
dalam mempersiapkan tenaga-tenaga pelatih klinis yang memiliki keterampilan
melatih yang standar serta tenaga-tenaga provider yang memiliki keterampilan
memberi pelayanan klinis di bidang Kesehatan Reproduksi (termasuk KB dan
Kesehatan Maternal) yang standar, diharapkan dapat mewujudkan cita-cita
optimalisasi kontribusi tenaga Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi, Dokter Umum
dan Bidan dalam menopang kualitas keberhasilan Gerakan KB Nasional dan Program
Kesehatan Nasional. Tentunya cita-cita ini hanya bisa tercapai kalau usaha jaringan mendapat
dukungan kerja sama yang penuh dari instansi pemegang kewenangan sektoral/lintas
sektoral terutama Departemen Kesehatan dan BKKBN beserta seluruh jajarannya di
daerah. Jaringan juga membutuhkan kerjasama yang saling menguntungkan dari
profesi terkait lainnya, misalnya IBI dan IDI. Proses pergeseran fokus dari Orientasi Kuantitas (atau Orientasi Pencapaian
Target) ke Orientasi Kualitas sesuai tuntutan modernisasi di bidang kesehatan
dan sebagai akibat munculnya JNPK-KR dalam pentas pelatihan SDM tenaga kesehatan,
dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan hasil kesepakatan dan kesepahaman
JNPK-KR dengan instansi Pemerintah
yang menjalankan Gerakan KB Nasional, Program Kesehatan Nasional dan Program
Pendidikan Tenaga Kesehatan. Dalam hal ini perlu senantiasa diupayakan untuk memelihara
iklim kerjasama kemitraan yang kondusif antara JNPK-KR dan jajaran Departemen
Kesehatan dan BKKBN yang dilandasi semangat saling asah dan asuh serta saling
mengisi. Salah
satu upaya meningkatkan kesejahteraan bangsa adalah dengan meningkatkan sumber
daya manusianya dan upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. Sebagaimana kita ketahui, tingkat kematian ibu (Maternal Mortality Rate=MMR) di Indonesia masih tinggi. Beberapa kenyataan menunjukkan, bahwa angka kematian ini dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah faktor tenaga medik yang memegang peran penting. Untuk itu pemerintah telah memprogramkan berbagai upaya seperti upaya menambah tenaga profesional dalam menggeser (shifting) pelayanan kesehatan reproduksi dari tenaga yang tidak profesional ke tenaga yang profesional yaitu dengan menambah tenaga dokter dan bidan desa. Tenaga profesional ini dapat memegang peran antara lain melalui pelayanan Keluarga Berencana dan pelayanan ibu hamil dan melahirkan di pedesaan. Dengan meningkatnya pelayanan kesehatan reproduksi di pedesaan, maka tenaga profesional di Puskesmas (dokter & bidan) perlu ditingkatkan kemampuannya dalam pelayanan kesehatan reproduksi tersebut. Pengamatan sementara
di beberapa tempat menunjukkan peran tenaga dokter dan bidan di puskesmas masih
dapat ditingkatkan, sebagai contoh bahwa: -
pelayanan kontrasepsi (IUD dan Implan) sebagian besar dilayani oleh bidan.
-
pelayanan obstetrik, seperti pertolongan persalinan sebagian besar
dilakukan oleh bidan. -
peran dokter dan bidan dalam menangani berbagai komplikasi obstetri masih
dapat ditingkatkan sesuai dengan kewenangannya -
dan sebagainya. Pengamatan
lebih jauh menunjukkan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan masih rendahnya
peran tenaga profesional dalam pelayanan kesehatan reproduksi adalah tingkat
kompetensi yang rendah, seperti yang menyangkut pelayanan dan penanganan efek
samping dari komplikasi berbagai metoda kontrasepsi efektif (MKET), penanganan
kedaruratan obstetrik dan sebagainya. Hal ini dikarenakan belum
diikutsertakannya segi-segi kompetensi para tenaga tersebut saat mereka
mendapatkan pelatihan atau pendidikan, untuk menangani berbagai prosedur
penanganan menjadi kewenangannya. Suatu langkah untuk membantu memperbaiki keadaan yang digambarkan diatas,
maka POGI sebagai organisasi profesi telah mengembangkan suatu model pelatihan
berdasarkan kompetensi dengan tujuan untuk melengkapi para tenaga kesehatan
dengan keterampilan dan pengetahuan mutakhir, yang diperlukan dalam menjalankan
tugas profesi. Sebagai gambaran umum pendekatan pelatihan tersebut mencakup: -
penggunaan prinsip belajar orang dewasa yang berarti saling mengisi,
praktis dan sesuai dengan kebutuhan/pekerjaan peserta (relevan) -
penggunaan “Coaching” (modifikasi sikap/behavior
modification atau berfungsi sebagai model) untuk memudahkan belajar -
latihan dalam bentuk praktek untuk menetapkan standar kerja (performance standard) yang baik untuk setiap keterampilan atau
kegiatan -
menilai sejauh mana kemampuan peserta mengerjakan keterampilan tersebut
dan bukannya seberapa banyak yang sudah dipelajari. Kemampuan peserta dimulai
dengan penilaian pada suatu model anatomik, yang merupakan suatu simulasi tubuh
manusia, sehingga memungkinkan peserta mencapai tingkat kompetensi melalui
cara-cara yang humanistik. Sebagai
upaya untuk mencapai gambaran umum diatas naskah ini membahas beberapa pokok
yang perlu diperhatikan pada penyelenggaraan pelatihan klinik adalah: -
Karakteristik proses belajar orang dewasa -
Menjadi pelatih keterampilan klinik yang efektif -
Melakukan penilaian diri sebagai pelatih -
Melakukan penilaian peserta pelatihan -
Menggunakan model -
Check list “prosedur klinik” -
Studi kasus Karakteristik proses belajar orang dewasa
Walaupun kita tidak dapat mengetahui seluruhnya tentang mekanisme proses belajar orang dewasa, akan tetapi sedikitnya kondisi untuk mengefektifkan perubahan yang permanen pada sifat-sifat orang dewasa adalah keinginan untuk tahu. Keinginan untuk tahu pada orang dewasa dapat kita bagi atas: -
tentang belajar dan motivasi orang dewasa -
tentang bekerja dengan orang dewasa di dalam kelas Dibandingkan
dengan proses belajar tradisional, proses belajar formal di sekolah menampakkan
adanya ciri sebagai berikut: -
instruksi -
tidak banyak interaksi -
sedikit pertanyaan dari pelajar atau
yang belajar -
sedikit keterlibatan pelajar dalam proses belajar -
kecenderungan bahwa pengajar adalah lebih pintar dari pelajar Sedangkan proses belajar tradisional, seperti halnya seorang tukang kayu mengajarkan anaknya menjadi tukang kayu, adalah: -
Belajar sambil bekerja (learning by
doing) -
Bersifat aktif, baik yang mengajar atau yang diajar -
Berinteraksi antara yang mengajar dan yang diajar -
Proses belajar menjadikan sesuatu yang menyenangkan Melihat perbedaan kedua ciri atau karakteristik diatas, maka proses belajar
tradisional lebih bersifat coaching
dibandingkan dengan proses belajar formal di sekolah. Untuk mencapai
karakteristik diatas maka proses belajar orang dewasa harus meliputi: -
yang diajarkan harus relevan -
diperlukan motivasi yang tingggi di dalam kelas, seperti adanya keinginan
untuk meningkatkan taraf keterampilan yang dipunyai selama ini, keinginan
belajar dan keinginan meningkatkan pengetahuan. -
para peserta perlu terlibat dalam proses belajar dan hal ini dapat
dilakukan melalui: ·
pertanyaan dan umpan
balik ·
curah pendapat dan
diskusi ·
menggunakan gerakan ·
menunjukkan proyeksi
pada group ataupun perorangan ·
menciptakan suasana
kelas yang aktif dan menggunakan permainan-permainan ·
menampung
masukan-masukan dari peserta belajar terhadap mata pelajaran, kegiatan ajar-mengajar
dan sebagainya. Orang dewasa sering menunjukkan keinginan yang beragam, untuk itu para pelatih perlu melakukan: -
perubahan acara kegiatan belajar -
penggunaan berbagai macam alat bantu dengar pandang (transparansi
overhead, video, slide, flip chart dan sebagainya) -
penggunaan bermacam-macam cara/metoda seperti ilustrasi kuliah,
demonstrasi dan coaching. Menjadi pelatih yang efektifUntuk menjadi pelatih yang efektif memerlukan ciri-ciri antara lain: -
bersifat mengayomi para peserta pelatihan -
membuka kesempatan untuk berkomunikasi antara para peserta dan pelatih -
memberikan kesempatan untuk saling memberikan umpan balik, seperti: ·
peserta perlu
mengetahui apa yang sedang dan akan dicapai pada pelatihan ·
melakukan dengan
benar keterampilan yang akan diberikan pada pelatihan ·
memberikan kesempatan
bagi peserta bila ada umpan balik yang positif ·
dapat mengatasi umpan
balik yang negatif melalui diskusi -
menyadari hal-hal yang perlu diperhatikan atau dititikberatkan pada
pelatihan dan dapat mengusahakan peserta agar menyadari hal-hal tersebut, dengan
jalan: ·
Diskusi disertai
dengan humor yang mengarah pada hal-hal yang perlu dititikberatkan. ·
Perlu beberapa kali
waktu istirahat (coffee break) dan
memanfaatkan waktu tersebut untuk obrolan-obrolan ringan yang mengarah pada
hal-hal tersebut diatas. ·
Perhatikan
tanda-tanda kelelahan peserta -
menggunakan metoda dan media yang bervariasi, seperti: ·
ilustrasi kuliah ·
demonstrasi ·
diskusi ·
studi kasus ·
diskusi kelompok
kecil pada pemecahan masalah -
melibatkan para peserta pelatihan sebanyak mungkin dalam penyelenggaraan
pelatihan dengan cara: ·
para peserta
mengetahui setiap seri, “program outline” atau silabus dari pelatihan. CoachHal lain yang perlu diperhatikan pada pelatihan adalah melatih prosedur
suatu keterampilan dengan cara coaching
yakni melalui cara-cara sebagai berikut: -
Pelatih harus mampu menunjukkan cara melakukan suatu prosedur
keterampilan langkah demi langkah -
Setiap langkah harus dapat diikuti dan dipahami dengan baik oleh peserta,
bila perlu disertai dengan penjelasan tentang langkah-langkah tersebut. -
Setiap peserta harus diberi kesempatan mencoba melakukan keterampilan
tersebut dengan dipandu oleh pelatih -
Pelatih harus mengoreksi bila ada langkah yang belum benar dengan jalan
memberi contoh kembali -
Pelatih harus bersifat mengayomi dan membimbing dengan penuh kesabaran
dan keramahan -
Dapat selalu membantu para peserta bila terjadi kesulitan dalam
pelaksanaan prosedur Secara singkat untuk memudahkan kita mengingat model langkah-langkah pada coaching
tersebut diatas: a.
C – Clear performance model b.
O – Openness to learning c.
A – Assess performance d.
C – Communication e.
H – Help and follow-up Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi (JNPK-KR) dibangun
lewat komitmen organisasi profesi dan dukungan instansi/ lembaga mitra yang
peduli terhadap kualitas pelayanan kesehatan dan keluarga berencana di
Indonesia. Meskipun banyak faktor yang berpengaruh terhadap kualitas pelayanan
kesehatan dan KB, akan tetapi keterampilan dan motivasi petugas merupakan elemen
utama yang berpengaruh secara dominan. Terbukti selama empat tahun melaksanakan
aktifitasnya, JNPK-KR telah memperlihatkan kemajuan dan pengaruhnya yang besar.
Keluhan-keluhan subjektif tentang komplikasi dan keterlambatan pencabutan
Norplan di awal kehadirannya, kini nyaris tidak terdengar. Pelatihan dalam bidang KB merupakan salah satu kegiatan JNPK-KR. Sampai saat
ini JNPK telah melatih 13.087 provider, yang terdiri dari
4.956 dokter dan 8.131 paramedis terutama bidan. Di wilayah kerja JNPK-KR,
telah terjadi peningkatan jumlah akseptor KB Norplant dan IUD dari 290.000 dan
680.000 pada tahun 1992-1993, menjadi 590.000
dan 800.000 pada tahun 1996-1997. Dimulai dengan 2 Pusat Pelatihan Klinik
Tertier (P2KT) di Jakarta dan Surabaya, kini JNPK-KR telah berkembang menjadi 2
P2KT, 22 Pusat Pelatihan Klinik Sekunder (P2KS) dan 70 Pusat Pelatihan Klinik
Primer (P2KP). Semuanya pelatih telah terlatih untuk
memberikan pelatihan yang berdasarkan kompetensi, yaitu pelatihan yang mengacu
pada keterampilan standar yang sebelumnya telah disepakati. Sejak 4 tahun terakhir JNPK-KR terus bergerak dalam bidang kesehatan ibu
khususnya bidang obstetri dasar. Saat ini, JNPK-POGI telah mengembangkan
Dokumen Rujukan Nasional (National
Resource Document) untuk Kesehatan Maternal. JNPK-KR telah juga
menyelesaikan modul pelatihan nasional asuhan pascakeguguran, yang sudah dapat
digunakan. Selain itu para pelatih JNPK-KR yang telah mendapat pelatihan
keterampilan melatih, siap memberikan pelatihan berbagai keterampilan klinik
di bidang kesehatan maternal. Sampai saat ini telah banyak para pelatih
JNPK-KR baik secara individu maupun secara kelompok yang dilibatkan pada
kegiatan pengembangan modul pelatihan dan pelatihan keterampilan klinik di
bidang kesehatan maternal. Diharapkan jaringan akan bekerja terus dalam bidang kesehatan
reproduksi, hal ini telah tampak dengan banyaknya permintaan keterlibatan
jaringan dari berbagai instansi dan organisasi mitra. Sebagai piranti yang relatif masih sangat muda, JNPK-KR telah digelar dalam
sebuah sistem pelatihan yang hiruk pikuk. Tidak jarang kehadiran JNPK-KR
dipandang mendua, sebagai mitra atau sebagai saingan. Oleh sebab itu, instansi/
lembaga mitra perlu selalu disadarkan akan pentingnya kehadiran JNPK-KR yang
terinstitusionalisasi dan mandiri serta profesional. Bersama JNPK-KR program
pelatihan klinik dapat distandardisasikan, dirancang, dilaksanakan dan
dievaluasi secara lebih layak. Bersama berbagai pihak terkait pula diharapkan
mampu menciptakan iklim yang subur,
agar piranti yang masih belia ini dapat mengoptimalkan fungsinya. Modal utama JNPK-KR untuk dapat tampil kuat dan mandiri adalah
profesionalisme dan komitmen internal yang kukuh. Prinsip-prinsip profesi di
bidang pelatihan keterampilan yang dahulu sering diabaikan, kini justru menjadi
isu yang menarik dan diminati. Kekukuhan pada prinsip profesi tersebut akan
mampu mengangkat rasa percaya diri untuk menghasilkan berbagai produk pelatihan
yang dibutuhkan oleh institusi/ lembaga mitra. Kemandirian jaringan dilandasi niat pengabdian guna memenuhi kebutuhan
nasional yang mendesak, sebagai lembaga profesional yang percaya diri, JNPK-KR
siap menjalin kerjasama yang saling mengisi dan menguntungkan. (dipetik dari Lokakarya Persiapan Pelatihan Bidan di Desa November 1998, oleh Ketua Koordinator JNPK-KR)
|